Mahasiswa: Mencari Ilmu atau Mencari Nilai?
Suatu hari, ketika saya kuliah untuk pertemuan perdana, yang pertama
kali ditanyakan oleh Dosen adalah “Saudara, di sini ini untuk apa?
Mencari nilai atau mencari ilmu? Pilih salah satu”. Semua mahasiswa pun
diam dan hening. “Siapa yang mau cari nilai?” Tanya Pak Dosen. Tak ada
yang angkat tangan. “Oow, jadi kalian gag perlu nilai?” tegas
bapak Dosen itu. Semuanya kebingungan harus milih yang mana. Selang
beberapa menit ada salah satu teman saya yang memberanikan diri untuk
angkat tangan, ia memilih nilai.
“Nama kamu siapa mas? Oke, saya akan langsung kasih sampean nilai A, silahkan sampean keluar dari kelas saya, gag usah khawatir, akhir semester nilai sampean saya jamin dapet A”. Semua mahasiswa pun terkejut dengan apa yang dikatakan oleh dosen tadi.
Itu dia sedikit kutipan yang menyinggung mengenai arti penting ilmu dan
nilai bagi Mahasiswa khususnya, dan semua pelajar pada umumnya. Memang
dilema, apabila kita di haruskan memilih salah satu dari keduanya itu,
Ilmu atau Nilai. Kita belajar memang tujuannya untuk mencari ilmu, tapi
tidak bisa dipungkiri nilai bagus juga menjadi tujuan seorang Mahasiswa.
Ironisnya, Mahasiswa sekarang ini nilai bagus atau IPK tinggi jadi
prioritas utama. Padahal belum tentu seseorang yang memiliki nilai
tinggi itu memiliki ilmu yang tinggi pula. Bisa jadi, orang yang IPK nya
pas-pasan lebih mumpuni ilmunya dari pada orang yang IPK nya tinggi
tadi. Jadi bisa disimpulkan ada si bodoh dengan IPK tinggi dan si Pandai
dengan IPK pas-pasan. Itu semua erat kaitannya dengan adanya “Proses”
dan “Hasil”.
Terkadang Guru atau Dosen, yang hanya mementingkan “hasil” dari belajar
mengajar, ketimbang “proses” selama belajar mengajar. Hal ini dapat
memicu terjadinya berbagai kecurangan dalam penentuan nilai. Mahasiswa
melakukan apapun agar mendapat nilai yang Maksimal. Mencontek ketika
ujian, membawa catatan ketika ujian dsb. Tidak peduli halal atau haram,
baik atau buruk .
Tuntutan IPK yang bagus, untuk bisa berkompetisi di dunia kerja,
merupakan salah satu faktor Mahasiswa tamak akan nilai yang tinggi.
Padahal IPK yang tinggi juga membutuhkan tanggung jawab yang besar pula
dari si empunya. Bayangkan, jika Si Bodoh dengan IPK tinggi masuk di
sebuah perusahaan karena prestasi akademik yang tertulis di dalam
transkip nilai, kemudian ketika bekerja ia tidak bisa banyak melakukan
pekerjaan yang di amanahkan kepadanya. Sungguh hal yang memalukan bukan?
Saran:
- Para tenaga pendidik jangan hanya menilai seorang Mahasiswa dari hasil akhirnya saja. Lebih baik menilai Mahasiswa dari kesehariannya, dari “prosesnya” ketika mengikuti perkuliahan, tingkah laku juga aspek yang penting. Karena sekali lagi tugas seorang Guru atau Dosen itu tidak hanya “mengajar” mata pelajaran atau mata kuliah yang di ampunya saja, tetapi juga “mendidik” akhlak dan moral Mahasiswa. Mau jadi apa Generasi kita, kalau dalam proses pendidikannya saja sudah terbiasa melakukan tindakan yang tidak terpuji.
- Bagi para Mahasiswa, nilai memang penting, tetapi ilmu jauh lebih penting. Buat apa Anda memiliki transkip nilai yang bagus tetapi tidak bisa mempertanggung jawabkan yang apa yang tertulis di dalamnya. Malah hal-hal seperti itu yang akan menyesatkan dan merugikan Anda sendiri untuk kedepannya.
Jadi intinya “Proses” yang BAIK Insya Allah akan membawa “Hasil” yang BAIK pula. Tetaplah berdoa dan berusaha.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar