Pengalaman pribadi keagamaan yang
pernah terjadi dari kecil bahkan dari saya dilahirkan sampai sekarang, saya sangat
bersyukur karena saya dilahirkan di keluarga
dengan agama yang paling sempurna yaitu agama islam. Dari kecil saya dididik
oleh orang tua saya yang insyaallah mereka berdua mendidik saya sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang ada dalam agama islam yang kami anut. Sejak dari dini
saya sudah diajarkan untuk solat dengan benar dan teratur walaupun
kadang-kadang saya tidak melakukannya dengan benar dan orang tua saya tidak
memaksakan mungkin di karenakan mereka menganggap saya masih kecil saat dulu
begitu juga dengan puasa saat saya masih kecil saya tidak diwajibkan untuk
puasa mereka hanya mengenalkan puasa kepada saya mengenalkan apa yang harus dilakukan
saat puasa larangan apa saja yang tidak boleh dilakukan saat puasa. Mereka
berdua sangat sabar dalam mengajarkan kepada saya semua yang mereka ketahui
tentang agama islam. Tahun demi tahun mulai berganti saya mulai mengerti apa
itu islam, mengapa saya menganut agama islam dan siapa yang pertama kali
menyebarkan agama islam , ayah saya dulu pernah berkata kepada saya bahwa
pemimpin yang paling sempurna yang menjadi junjungan semua umat islam yang ada
di dunia adalah nabi besar Muhamad SAW.
Beliau adalah seorang pemimpin yang
sangat sempurna dalam segala bidang dan tidak akan ada pemimpin yang bisa
menyamai beliau walaupun kita tidak dapat meniru secara sempurna tetapi kita
harus tetap berusaha dan wajib untuk mncontoh tindakan-tindakan yang pernah
beliau lakukan walaupun tidak akan sempurna.
Tahun terus berjalan saya sudah mulai
tumbuh dewasa orang tua saya sudah mewajibkan saya untuk menjalankan ibadah sholat
lima waktu mereka sudah tidak membiarkan saya seperti dulu lagi saya sudah
benar-benar diwajibkan untuk menjalankannya begitu juga dengan puasa,jika tiba
waktunya bulan puasa saya juga diwajibkan untuk berpuasa dengan benar, puasa
dengan segala apa yang dilarang pada waktu itu dan semua yang wajib dikerjakan
pada saat bulan puasa semua yang mereka lakukan karena menganggap saya sudah
dewasa.
Saya pernah
mengalami kejadian yang mungkin bisa disebut kejadian agamis suatu ketika saya
pernah sekali melakukan kesalahan yang berakibat sangat fatal, pada waktu itu
ibu saya melarng saya untuk tidak keluar dari rumah tetapi tanpa pikir panjang
saya memaksa untuk pergi dari rumah sampai sampai saya tidak menghiraukan
perkataan seorang ibu, pada waktu itu saya buru-buru pergi dari rumah dengan
menggunakan sepeda motor saat di jalan tanpa adanya alasan yang jelas tiba-tiba
motor saya terpelanting dan fatalnya saat motor akan terpelanting saya sedang menaikinya untung
saja Allah masih memberikan saya keselamatan setelah kejadian itu saya
meutuskan untuk pulang ke rumah tapi dengan perasaan yang bercampur aduk,
setibanya saya di rumah ibu saya kaget melihat saya pulang dengan badan
luka-luka dan motor yang rusak lalu ibu saya bertanya kepada saya kenapa kamu
nak, saya menjawab saya jatuh bu....saat itu ibu bilang makannya kalau di
beritahu orang tua harus menurut....ibu juga bilang kenapa saya mengalami
kejadian itu karena saya tidak menurut terhadap orang tua dan sebelum saya
pergi saya belum melaksanakan solat lima waktu yang seharusnya wajib di lakukan
dari pada kepentingan dunia. Dengan adanya kejadian itu saya alhamdulillah
sampai sekarang harus mementingkan solat jika sudah tiba waktunya dari pada
kepentingan yang lainnya.
Saya juga tidak akan pernah
membantah perintah dari orang tua apalagi seorang ibu krena menurut sabda rosululloh
bahwa surga berada di bawah telapak kaki seorang ibu mengapa ada sabda seperti
itu mungkin karena seorang ibu sudah sangat susah payah melahirkan kita ke
dunia ini dengan taruhan semua nyawanya, saya berusaha untuk selalu mematuhi
perintah orang tua, saya berusaha untuk tidak berbohong kepada orang tua, saya
juga berusaha untuk membahagiakan ke-dua orang tua saya, saya juga berusaha supaya
saya bisa membuat bangga ke-dua orang tua saya walaupun saya tidak akan pernah
melakukan semua itu dengan sempurna tetapi saya akan selalu berusaha
melakukannya dengan semua yang saya miliki dengan semampu diri saya.
Satu pengalaman agamis yang pernah
saya alami adalah kejadian itu terjadi ketika saya lulus SMA, ketika saya lulus
SMA saya mendaftar di UNS Surakarta karena saya ingin melanjutkan study saya
dan juga mendaftar di universitas yang saya inginkan, saya mengikuti ujian
masuk yang pertama di universitas yang saya inginkan saat mengikuti ujian masuk
tersebut saya merasa bisa mengerjakan hampir semua soal yang ada dan saya juga
yakin saya bisa dengan mudah masuk di universitas tersebut akan tetapi tidak disangka-sangka
ternyata saya tidak lolos ujian masuk tersebut pada saa itu persaan saya kacau
balau saya merasa sangat frustasi dengan kejadian itu dan hampir-hampir
keinginan saya untuk melanjutkan study tidak akan terlaksana karena saya
benar-benar merasa frustasi.
Setelah kejadian itu ayah saya
berkata kepada saya bahwa sebenarnya kamu bisa masuk ke universitas tersebut
akan tetapi kamu hanya mementingkan faktor dunia yaitu kepintaran ataupun
prestasi yang tidak di sertai dengan faktor lain yaitu do’a, ‘doa yang
merupakan restu dari Allah SWT.
Setelah
mendengarkan penjelasan dari ayah saya tersebut saya mulai menyadari kesalahan
yang saya perbuat, saya mulai paham kembali dan saya juga mulai sadar dan
seketika itu saya memohon dan berdoa kepada Allah SWT supaya saya mendapat
keberuntungan supaya saya juga mendapat kemudahan bukan hanya untuk menghadapi
tes seleksi masuk universitas yang selanjutnya akan tetapi saya juga berdoa supaya
saya bisa di beri kemudahan untuk menghadapi masalah duniawi.
Tiba waktunya
pelaksanaan tes yang selanjutnya di STAIN Salatiga, sebelum tes tersebut saya
merasa yakin bisa atau akan dapat mengerjakan soal tersebut karena saya tidak
ingin mengecewakan orang tua saya untuk ke dua kalinya tapi saya tidak
menyangka ketika mengerjakan soal ujian masuk tersebut, soal tersebut sama
sekali tidak bisa saya kerjakan tidak sperti saat mengerjakan ujian masuk
universitas yang pertama, setelah ujian tersebut selesai dengan perasaan kacau
saya pulang ke rumah ketika sampai di rumah saya di tanya oleh ayah saya, bagaimana
tesnya saya hanya bisa menjawab saya tidak bisa mengerjakan soal-soal yang ada
dan mungkin saya untuk ke dua kalinya mengecewakan ayah akan tetapi ayah saya
hanya tersenyum teruslah berdoa kepada Allah apapun yang terjadi dan yakinlah
bahwa Allah akan mendengarkan doa kamu dan akan mengabulakan doa kamu. Saya
terus-menerus berdoa kepada Allah SWT agar saya di terima karena saya tidak mau
mengecewakan kedua orang tua saya untuk kedua kalinya, saya berdoa
terus-menerus saat selesai menjalankan sholat lima waktu. Sampai tiba waktunya
pengumuman sebelum saya melihat pengumuman ayah saya berkata kalau beliau sudah
sangat yakin bahwa saya akan diterima tapi saya masih ragu karena saya tidak
bisa mengerjakan soal-soal yang ada pada saat ujian, akan tetapi tak disangka-sangka
ternyata saya lolos atau di terima di STAIN Salatiga. Saya merasa heran kenapa
saya bisa diterima padahal waktu mengerjakan soal tersbut saya benar-benar
merasa tidak bisa mengerjakannya. Ayah saya
berkata ada faktor lain yang mendukung kenapa kamu bisa lulus ujian masu, beliau berkata karena do’a atau restu
dari Allah SWT yang menjadikan kamu bisa masuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar