Carut marut dunia pendidikan kita selalu menjadi perbincangan yang
menarik banyak pihak namun sampai saat ini belum menghasilkan solusi
yang jitu untuk mengatasinya. Hal ini disebabkan karena masing-masing
pihak memiliki persepsi, kriteria, harapan dan kepentingan yang berbeda
tentang keberadaan dan proses pendidikan di negeri kita tercinta ini.
Perbedaan pada tataran implementasi bisa saja terjadi dan mungkin harus
terjadi, karena proses pendidikan harus disesuaikan dengan situasi dan
kondisi peserta didik, aspek sosial budaya masyarakat tempat pendidikan
itu berlangsung. Namun kalau perbedaan itu terjadi pada aspek filosofi
dan kalaupun sama filosofinya namun terjadi perbedaan dalam
menginterprestasi filosofi tersebut, ini yang berbahaya. Tampaknya
kondisi inilah yang terjadi di negeri kita ini. Kita semua sepakat bahwa
pendidikan kita harus berkualitas. Namun kalau kita tanya pendidikan
seperti apa yang berkualitas tersebut, apa indikator pendidikan yang
berkualitas. Jawabannya sangat beragam dan bahkan adakalanya tidak
sejalan antara pendapat satu dengan pendapat lainnya.
Dalam melihat kondisi pendidikan kita saat ini, tentu setiap orang akan
memiliki pandangan yang berbeda, bergantung dari sisi mana kita
melihatnya. Kalau perbedaan tersebut terjadi pada tataran praksis
barangkali tidak akan berakibat terlalu berarti. Tetapi apabila
perbedaan tersebut terjadi pada tataran filosofis maka bisa jadi akan
berakibat pada perbedaan keseluruhan proses pendidikan yang kita
laksanakan. Diantara perbedaan persepsi atau pemahaman yang berakibat
pada carut marutnya dunia pendidikan adalah berkenaan dengan apa yang
disebut pendidikan BERKUALITAS bahkan lebih khusus lagi tentang sekolah
berkualitas. Ya, kita semua belum ada kesepahaman tentang apa yang
disebut dengan pendidikan atau sekolah berkualitas.
Sementara orang ada yang memandang bahwa pendidikan berkualitas
adalah pendidikan yang menghasilkan anak-anak yang memiliki wawasan dan
pengetahuan yang luas, sehingga bisa menjadi juara dalam berbagai lomba
dan olimpiade. Sejalan dengan pendapat ini, mereka berpendapat
pendidikan atau sekolah berkualitas adalah mereka yang bisa meluluskan
100% siswa-siswinya dan mendapat skor tinggi dari hasil ujian nasional.
Akibat dari pihak yang mempersepsikan kualitas pendidikan seperti ini
adalah mereka mengerahkan sebagian besar sumber daya yang mereka miliki
untuk mengajar siswa-siswinya dengan sejumlah pengetahuan yang bersifat
teoretik dan faktual untuk dihafal dan difahami. Dalam kesempatan lain
siswa-siswi mereka didrill dalam menjawab sejumlah soal dan diajari trik
cara menentukan jawaban yang benar tanpa harus memahami konsep dan
prinsip yang ditanyakan dalam soal. Bahkan tidak sedikit sekolah yang
kemudian menyerahkan persiapan siswa-siswi mereka ke lembaga bimbingan
belajar. Strategi pembelajaran seperti itu memang adalah strategi yang
paling efektif untuk mencapai tujuan mereka yaitu mendapatkan predikat
sekolah berkualitas.
Ada pihak lain yang memandang pendidikan dan sekolah berkualitas
adalah mereka yang mengasilkan lulusan yang memiliki kompetensi setara
dengan standar internasional. Oleh karena itu, untuk mencapai predikat
pendidikan dan sekolah berkualitas mereka kemudian berlomba
menyelenggarakan pendidikan dengan mengadopsi kurikulum dari luar
negeri. Dengan cara seperti itu mereka berkeyakinan akan meluluskan
siswa-siswi yang berkualitas dan bertaraf internasional.
Tidak usah heran Pemerintah pun memiliki persepsi sendiri tentang
pendidikan dan sekolah berkualitas. Hal ini dapat dilihat dari berbagai
kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah yang sering tidak konsisten
(berubah), namun semuanya berlindung pada argumen demi meningkatkan
kualitas pendidikan kita. Perubahan kurikulum yang dikembangkan dengan
pendekatan yang berbeda menunjukkan Pemerintah memiliki perbedaan
tentang pendidikan dan sekolah berkualitas yang ingin diwujudkannya.
Apa jadinya nasib pendidikan kita kalau diantara mereka yang
berkepentingan dengan dunia pendidikan memiliki persepsi dan pandangan
yang berbeda tentang arah dan target pendidikan yang dilaksanakannya.
Apa sesungguhnya yang bisa dijadikan satu kriteria tentang kualitas
pendidikan dan sekolah kita. Kemana arah pendidikan dan sekolah kita
bergerak untuk mewujudkan pendidikan dan sekolah berkualitas?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
gerunds
Gerunds Gerunds atau verbals atau verbal nouns adalah kata kerja berbentuk ing yang dipakai sebagai kata benda. A. Bentuk Gerund dibent...
-
Puisi masih menjadi daya tarik tersendiri dunia persastraan, selain karena panjangnya yang tak sepanjang cerpen atau bahkan novel, bahasa-...
-
Carut marut dunia pendidikan kita selalu menjadi perbincangan yang menarik banyak pihak namun sampai saat ini belum menghasilkan solusi ya...
-
Strategi Reading Guide (Panduan Membaca) Dalam strategi reading guide ini, peserta didik akan diajak aktif dalam pembelajaran. Karena ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar